h1

Delivery mouse grouper system

January 2, 2009

TRANSPORTASI BENIH IKAN KERAPU BEBEK, Cromileptes altivelis HASIL PEMBENIHAN DI BALI

Balai Besar
Riset Perikanan Budidaya Laut, Gondol PO Box 140, Singaraja 81101, Bali.

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh kepadatan optimal pada

transportasi benih ikan kerapu bebek dengan lama watu dan ukuran benih serta sistem transportasi yang berbeda. Benih ikan kerapu bebek yang dipakai sebagai hewan uji berukuran panjang total 4-8 cm. Wadah digunakan kantong plastik ukuran 30 x 50 cm yang  diisi 2 liter air laut dan ukuran 35 x 60 cm yang diisi 3 liter air laut. Ratio antara air dan gas oksigen adalah 1 : 3. Perlakuan kepadatan benih perkantong plastik disesuaikan dengan ukuran benih dan lama waktu transportasi. Hasil penelitian menunjukan

bahwa kepadatan maksimal per kantong plastik yang tingkat kelangsungan hidup tinggi (95-99%)untuk ukuran benih 4-5 cm pada lama waktu 12 jam dan 22 jam adalah masing-masing 30 ekor dan 25 ekor; pada ukuran benih 5-6 cm pada lama waktu 12 jam dan 22 jam adalah masing-masing 25 ekor dan 20 ekor, sedangkan pada ukuran benih 7-8 cm adalah masing-masing 15 dan  12 ekor. Pada transportasi dengan sistem tertutup semuanya
menghasilkan kelangsungan hidup yang sangat tinggi (lebih dari 99%).

ABSTRACT

The experiment was aimed to reveal optimum density of the live humpback grouper seed transportation with different of densities, size of seed, duration and transportation sistem. The total length of seed range from 4 to 8 cm. The plastic bag size 30 x 50 cm filled with 2 liter seawater
size 30 x 50 cm filled with 2 liter seawater and size of 35 x 60 cm filled with 4 liter seawater and the ratio of water and oxygen was 1: 3. The treatments of stock density of seed is depended of size of seed and transport durations. The results showed that the optimal densities per plastic for seed with total length 4-5 cm and duration 12 hours
and 22 hours are 25 and 30 per bag repectively; on seed with total length 5-6 cm with duration 12 and 22 h are 25 and 20  fish per bag  respectively and on 7-8 cm total length 15 and 12 fish per bag respectively.
Survival rate on transportation with open sitem using truk with fiberglass tank and pure oxigen is very high (more than 99%).



PENDAHULUAN

Ikan kerapu bebek, Cromileptes altivelis  merupakan komoditas ekspor yang bernilai ekonomis tunggi di pasar Asia seperti Hongkong dan Singapura. Saat ini harga ikan kerapu bebek di Denpasar dan Jakarta berkisar antara Rp.300.000-350.000 per kg hidup. Selain itu kerapu bebek mempunyai bentuk yang indah dari kerapu lainnya sehingga waktu kecil bisa dijual sebagai ikan hias dengan harga yang cukup mahal. Pembenihan ikan kerapu bebek sudah diteliti  mulai tahun 1996 (Trijoko et al., 199) dan di tingkat petani hatchery skala rumah tangga (HSRT)mulai tahun 1997, namun baru  berkembang sejak tahun 1999 di HSRT di Bali. Usaha pembenihan ikan kerapu bebek sudah dirintis di berbagai daerah seperti Lampung, Jawa barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, kep. Seribu, kep. Riau, Sulawesi Selatan, NTB, dan NTT; namun hanya di Bali yang dapat berkembang baik. Hal ini disebabkan oleh sudah terdapat sekitar 3.000 petani HSRT bandeng yang sekitar sepuluh persennya berusaha memproduksi benih kerapu bebek sebagai usaha sambilan, sehingga setiap bulan selalu ada yang berhasil menghasilkan benih kerapu bebek di Bali.

Keberhasilan transportasi benih akan mendukung pengembangan kegiatan budidaya pembesaran ikan kerapu khususnya dalam mengupayakan keselamatan dan kesehatan benih yang diangkut dari unit perbenihan sampai ke lokasi budidaya/ pembesaran. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis kemampuan daya tahan tubuh serta menganalisis kesehatan benih ikan kerapu bebek yang sedang diangkut pada berbagai kepadatan, selain itu sasaran lebih lanjut adalah untuk menganalisis kemungkinan peningkatan efesiensi biaya transportasi dengan meningkatkan kepadatan pengangkutan dengan memperhatikan faktor kesehatan dan sintasan benih ikan kerapu bebek.

BAHAN DAN METODE

Studi transportasi benih ikan kerapu bebek sistim tertutup dan terbuka dilakukan dengan menggunakan benih hasil produksi petani pembenihan di Bali. Ikan uji berupa benih ikan kerapu bebek dengan panjang total 4 – 5 cm dan
bobot tubuh 3-10 gram. Pada sistem tarnsportasi tertutup benih ikan uji tersebut sebelum dikemas kedalam kantong plastik dipuasakan selama 24 jam. Wadah menggunakan kantong plastik yang berukuran 30 x 50 cm diisi air laut yang telah diaerasi sebanyak 2 liter dan 35 x 60 cm diisi air laut 3 liter.

Kantong plastik yang telah berisi benih kemudian diisi oksigen murni dengan tekanan 100 kg/cm2, ratio antara gas oksigen dan air 3 : 1. Kantong plastik yang berisi benih ikan selanjutnya dimasukan kedalam box  streofoam, dan didinginkan dengan menambahkan es batu sebanyak 0,5 kg per box. Parameter yang diamati dalam kegiatan ini adalah kelangsungan hidup, dan kualitas air media pada saat berangkat dan sampai tujuan yang meliputi oksigen terlarut, pH, suhu, salinitas, ammonia dan karbon dioksida dilakukan secara simulasi transportasi. Pada pengangkutan dengan sistem tertutup menggunakan kendaraan berupa truk yang dilengkapi dengan 2 buah bak fiber glass volume masing-masing 2 m3 yang dilengkapi dengan aersi dengan oksigen murni. Kecepatan aerasi oksigen murni diatur sedemikian sehingga 1 tabung dapat digunakan selama 6-8 jam. Selama perjalanan dilakukan penggantian air sebanyak 70-80% setiap 6-8 jam sekali.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Data kelangsungan hidup benih kerapu bebek pada transportasi sistem tertutup secara rinci disajikan pada Tabel 1.

Kelangsungan
Hidup Benih Kerapu pada Transportasi Sistem Tertutup

Tabel 1 dapat dilihat bahwa pada transportasi sistem tertutup untuk benih ukuran 4 – 5 cm kepadatan yang optimum dengan kantong ukuran 30 x 50 cm pada lama waktu trtansportasi 12 jam adalah 30 ekor per kantong dengan kelangsungan hidup (SR) 95-99%; sedang selama 22 jam adalah 25 ekor per kantong (97-99%). Untuk benih ukuran 5 – 6 cm kepadatan yang optimum dengan kantong ukuran 30 x 50 cm pada lama waktu trtansportasi 12 jam adalah 25 ekor per kantong dengan kelangsungan hidup (SR) 98-99%; sedang selama 22 jam adalah 20 ekor per kantong (96-99%). Untuk benih ukuran 6–7 cm  dan 7-8 cm sering mengalami kendala kantong plastik yang bocor dan kempes karena tertusuk tulang  sirip punggung. Pada transportasi selama 12 jam kendala palstik kempes masih tidak terlalu fatal, terutama pada transportasi darat walaupun plasti kempes benih masih dapat tertolong oleh goncangan yang mempercepat difusi oksigen.

Tabel
1. Kepadatan,ukuran ikan. lama pengangkutan dan persen sintasan dalam
transportasi  benih ikan kerapu bebek dengan sistem tertutup dari
Bali ke perbagai kota tujuan

Ukuran panjang total benih

(cm)

Ukuran
kantong

(cm)/ volume
air (liter)

Kepadatan
benih per kantong

(ekor)

Lama
transportasi (jam)

Kota

tujuan

Alat

angkut

Sintasan

(%)

Keterangan

(ada/tidak 
kantong

 

plastik yang
kempes

1

2

3

4

5

 

6

7

8

4,0-5,0

30 / 2

30

12

Jakarta

Pesawat

93-95

Tidak

4,0-5,0

30 / 2

25

12

Jakarta

Pesawat

98-99

Tidak

4,0-4,5

30 / 2

30

22

Bengkulu

Pesawat

90-93

Tidak

4,0-5,0

30 / 2

25

22

Bengkulu

Pesawat

97-98

Tidak

5,0-6,0

30 / 2

20

12

Jakarta

Pesawat

98-99

Tidak

5,0-6,0

30 / 2

17

12

Bengkulu

Pesawat

98-99

Tidak

5,0-6,0

30 / 2

20

12

U.Pandang

Pesawat

98-99

Tidak

6,0-7,0

30 / 2

15

12

Bengkulu

Pesawat

92-93

ada

6,0-7,0

30 / 2

20

12

Jakarta

Pesawat

92-93

ada

6,0-7,0

30 / 2

25

12

Lombok

Darat

98-99

ada

6,0-7,0

35 / 4

35

12

Lombok

Darat

97-99

ada

7,0-8,0

30 / 2

25

12

Lombok

Darat

92-93

ada



               

7,0-8,0

35 / 4

25

12

Lombok

Darat

98-99

ada

5,0-6,0

30 / 2

15

18

Batam

Pesawat

98-99

Tidak

4,0-4,5

30 / 2

20

18

Batam

Pesawat

98-99

Tidak

7,0-8,0

30 / 2

15

12

Lombok

Darat

98-99

ada

 

Kelangsungan
Hidup Benih Kerapu pada Transportasi Sistem Terbuka

Pada transportasi terbuka semua pelakuan menghasilkan kelangsungan hidup yang sangat tinggi (>99%).  Hal ini karena kodisi kualitas air relatif stabil terutama kadar oksigen dan amoniak terlarut  oleh pemberian aerasi oksigen murni dan penggantin 70-80% air laut setiap 6-8 jam (Tabel 2).

Tabel 2. 
Kepadatan,ukuran ikan. lama pengangkutan dan persen sintasan dalam   
transportasi  benih ikan kerapu  bebek dengan sistem terbuka
dari Bali ke perbagai kota tujuan

Ukuran panjang total benih

(cm)

Volume

Bak (m3)

Alat
angkut

Jumlah
benih yang diangkut

(ekor)

Lama
transportasi (jam)

Tujuan

Frekuensi
Penggan

tian air
(kali)

Kelang

sungan hidup

 

benih

 

(%)

5,0-6,0

4,0

Truk

6.000

15,0

Lombok

1,0

100,0

10,0-12,0

2,0

Truk

2.000

15,0

Lombok

1,0

100,0

12,0-19,0

2,0

Truk

900

15,0

Lombok

1,0

100,0

5,0-7,0

4,0

Truk

4.000

15,0

Lombok

1,0

100,0

15,0-17,0

4,0

Truk

2.000

72,0

Larantuka

6,0

99,5

8,0-9,0

4,0

Truk

6.000

48,0

Lampung

4,0

99,5

6,0-7,0

4,0

Truk

4.000

60,0

Lb.Bajo

4,0

99,5

8,0-9,0

4,0

Truk

4.000

24,0

Dompu

2,0

99,5

 

Keberhasilan transportasi ikan hidup selalu dipengaruhi sifat fisiologi ikan sendiri, ukuran ikan, kebugaran/mutu ikan menjelang transportasi, mutu air selama transportasi (suhu media DO, pH, CO2. dan ammonia), kepadatan ikan dalam wadah, teknik mobilitasi dengan menggunakan suhu rendah atau bahan kimia serta metabolit alam dan lama penggangkutan (Suryaningrum et al., 2001; Pipet et. al 1982; Basyarie, 1990; Subangsinghe, 1972; Prorent, 1990; Frose. R. 1997). Pada kenyataan dalam melakukan kegiatan transportasi ikan hidup selalu terjadi kompetisi penggunaan ruang dan pemanfaatan oksigen yang tersedia. Pengangkutan dengan sistim tertutup menggunakan kantong plastik, nilai oksigen merupakan parameter penentu pada transportasi ikan hidup ( Berka, 1986).

Peningkatan kepadatan menyebabkan penurunan mutu air selama transportasi. Hal ini terlihat dari kondisi visual air selama pengangkutan air media agak keruh, berlendir dan Respon ikan terhadap perubahan lingkungan suhu,oksigen terlarut, serta peningkatan metabolik ikan ditunjukkan oleh perubahan warna (Utomo dalam Suryaningrum,  2000). Pada kondisi stress, ikan berubah menjadi pucat, warna menjadi keputihan dan pola warna hilang. Jika ikan mudah
dapat beradaptasi dengan kondisi lingkungannya pola warna tersebut dengan cepat akan normal kembali.

Pada dasarnya keberhasilan kegiatan pengangkutan benih ikan kerapu bebek tidak terlepas kaitannya dari cara penanganan benih ikan sejak sebelum dikemas hingga sampai tempat tujuan, tetapi yang lebih penting lagi dari semuanya itu adalah cara mempertahankan agar kualitas fisiko-kimia air media selama pengangkutan agar lebih stabil sehingga diharapkan dapat mendukung dan menjaga kesehatan benih yang sedang diangkut.

Hasil konsumsi oksigen sangat dipengaruhi oleh faktor kepadatan sehingga dari kajian tersebut dapat disimpulkan bahwa peranan faktor kepadatan mempunyai korelasi positif terhadap tingkat pemanfaatan oksigen, artinya semakin
tinggi kepadatan tingkat konsumsi oksigen akan menjadi lebih tinggi demikian sebaliknya.

Kelarutan oksigen pada saat pengepakan yaitu 6,2 mgO2,/liter, selanjutnya pada adalah 3-4 mgO2/liter, berpengaruh terhadap aktivitas fisiologi ikan. Menurut Rammerswaal (1993) kelarutan oksigen yang rendah didalam air akan menyebabkan warna ikan menjadi pucat, aktivitas ikan lamban, kadang-kadang ikan naik kepermukaan. Lebih lanjut Utomo dalam. Suryaningrum et al. (2000) dalam penelitianya menyatakan bahwa kelarutan oksigen sebesar 3,47 mg O2/liter menyebabkan ikan gelisah, warna menjadi pucat, aktifitas lamban.

Kandungan amonia setelah transportasi meningkat dengan meningkatnya kepadatan. Kandungan amonia pada akhir transportasi berkisar 8-11 mg/liter, namun kandungan NH3 amonia tersebut belum bersifat racun atau mematikan ikan terlihat dari sintasa ikan masih tinggi. Hal ini karena ammonia yang dianalisa dalam bentuk amonium (NH4+), sehingga daya racun tidak begiru kuat. Meningkatnya kandungan amonia dalam air ini dapat berasal dari hasil metabolisme pemecahan protein menjadi amonia oleh bakteri (Remmarswaal, 1993). Tingginya kandungan amonia dalam air menyebabkan pengeluaran amonia dalam darah dan jaringan tinggi. Hal ini menyebabkan pH dalam darah naik. Keadaan ini menyebabkan meningkatnya konsumsi oksigen oleh ikan, sementara kelarutan oksigen dalam media semakin menurun, sehingga akhirnya menyebkan kematian ikan.

KESIMPULAN

  1. Kepadatan maksimal
    per kantong plastik yang masih menghasilkan kelangsungan hidup tinggi
    (95-99%) untuk ukuran benih 4–5 cm pada lama waktu 12 jam dan 22 jam
    adalah masing-masing 30 ekor dan 25 ekor; pada ukuran benih 5-6 cm pada
    lama waktu 12 jam dan 22 jam adalah masing-masing 25 ekor dan 20 ekor,
    sedangkan pada ukuran benih 7-8 cm adalah masing-masing 15 dan 
    12 ekor.
  1. Pada transportasi
    dengan sistem tertutup semuanya menghasilkan kelangsungan hidup yang
    sangat tinggi.(lebih dari 99%).

DAFTAR
PUSTAKA
.

 

Basyarie.
A (1990). Transportasi Ikan Hidup. Traning Penangkapan Aklimatisasi
dan Peyimpanan Ikan Hias Laut. Jakarta 4 – 18 Desember 1990.

Berka.
R. 1986. The transport of live fish EIFAC Tech. Pap. No. 48. p.52Froces.
R 1997. How to Transport live Fish in Plastic Bags. FAO. Technical Paper.
Roma.Piper.
G.R, IBMc. Elwain, L.E. Ormen, J.P.Mc. Caren, L.G. Fowler and I.R. Leonard.
1982. Hatchery Management. Washington DC, US. Report of Interior, Fish Proseno,
D 1990. Cara Transportasi Ikan Dalam Keadaan Kidup. Makalah disajikan
pada Acara Temu Penelitian , Paket Teknologi 29 – 31 Oktober 1990.Rammerwaal
. 1993 Recirculating Aquaculture System. Info fish international 2 p 39 – 193 Subangsing.
S 1997. Live Handling and Transpotation. Infofish International 2p. 39 – 43

Sugama,
K., Wardoyo, Rohaniawan, dan Masuda, H. 1998. Tenologi Pembenihan Ikan
Kerapu Bebek (Cromileptes altivelis). Dalam Proseding Seminar
Teknologi Perikanan Pantai Bali, 8-7 Agustus 1998. Loka Penelitian Perikanan
Pantai Gondol – JICA (ATA-379) p 80 – 88.

Suryaningrum,
T.D., Abdul Sari dan Ninoek Indiarti (2000). Pengaruh Kapasitas Angkut
Terhadap Sintasan dan Kondosi Ikan pada Transportasi Kerapu Hidup Sistim
Basah. Dalam Proseding Seminar Hasil Penelitian Perikanan 1999/2000.
Pusat Penelitian dan Pengembangan Eksplorasi Laut dan Perikanan Jakarta.
P; 259-268.

Tridjoko,
Slamet, B, Makatutu ,D dan Sugama,K. 1996. Pengamatan Pemijahan dan
Perkembangan Telur Ikan Kerapu Tikus (Cromileptes altivelis)
secara Terkontrol. Jurnal. Penelitian Perikanan Indonesia. 2 (2) : 55-62.

Wibowo, S, Utomo, B S.V. and Suryaningrum, T.D. 1987. Kajian Sifat Fisiologi
Ikan Sebagai Dasar Dalam Pengembangan Transportasi Ikan Kerapu Lumpur
(Epinephelus tauvina) Hidup untuk Eksport. Makalah disampaikan
sebagai penelitian unggulan Puslitbang Perikanan.

 

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: